BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS

Kamis, 08 Juli 2010

LAPORAN PKL PADA PT ANGKASA PURA II (PERSERO) BANDAR UDARA POLONIA MEDAN

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan

Sesuai dengan tujuan pendidikan Politeknik Negeri Medan, yaitu mengembangkan sumber daya manusia yang profesional untuk pembentukan kompetisi dalam menangani segala pekerjaan dalam bidangnya dapat menjawab tantangan ini, sehingga diharapkan bahwa para tamatan Politeknik dapat bekerja seperti yang diharapkan yakni mampu menagani segala tugas yang diemban dengan siap pakai dibidang keteknikan maupun ketataniagaan. Maka pihak Politeknik Negeri Medan, khususnya pada Program Diploma Tiga (D3) mengusahakan agar para mahasiswa mempunyai keterampilan dan persiapan untuk memasuki dunia kerja.

Untuk memperkenalkan dunia kerja ini kepada mahasiswa, maka sangat diperlukan adanya Praktik Kerja Lapangan. Mahasiswa langsung dihadapkan dengan masalah yang sebenarnya di dalam dunia kerja. Politeknik Negeri Medan khususnya pada Program Administrasi Bisnis mewajibkan seluruh mahasiswanya untuk melaksanakan Praktik Kerja Lapangan.

Praktik Kerja Lapangan ini dilaksanakan pada akhir semester V. Selama melaksanakan Praktik Kerja Lapangan di sebuah perusahaan atau di instansi pemerintah, maka pihak perusahaan atau instansi pemerintah akan memberikan bimbingan dan penjelasan kepada mahasiswa mengenai kegiatan atau pekerjaan yang ada dalam perusahaan atau instansi tersebut.

Pada kesempatan ini mahasiswa/mahasiswi dapat membandingkan antara teori yang di bangku perkuliaan dengan praktik yang ada di perusahaan atau instansi pemerintah. Mahasiswa diharapkan untuk dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh pada waktu kuliah dengan maksud untuk meningkatkan keahlian dan pengalaman serta mendapat gambaran tentang dunia kerja yang sebelumnya didapat oleh mahasiswa.

1.2 Tujuan Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan

Adapun tujuan dilaksanakan Praktik Kerja Lapangan ini adalah sebagai berikut:

1. Memperkenalkan dunia pekerjaan yang sebenarnya kepada mahasiswa/i agar dapat mempersiapkan diri dalam memasuki dunia usaha nantinya.

2. Memberikan kesempatan kepada mahasiswa/i untuk dapat menerapkan dan membandingkan teori-teori yang selama ini diperoleh dibangku perkuliahan dengan kenyataan yang terjadi di lapangan, serta dapat melatih mahasiswa/i agar kelak dapat menjadi manusia yang berkualitas serta berguana bagi pihak-pihak yang membutuhkan.

3. Mengembangkan dan meningkatkan kemampuan serta keterampilan mahasiswa/i dengan cara mengaplikasikan ilmu yang diperolehnya di bangku perkuliahan ke dalam pekerjaan.

4. Memperoleh pengalaman selakyaknya seorang karyawan perusahaan yang diharapkan dapat menyesuaikan diri pada saat terjun ke dunia kerja.

5. Meningkatkan kemampuan mahasiswa/i dalam mengatasi suatu masalah.

1.3 Sistematika Penulisan Laporan Praktik Kerja Lapangan

Dalam penulisan Lapran Praktik Kerja Lapangan ini materi yang dibahas dibagi kedalam beberapa sub bab, hal ini dimaksudkan agar penulisan Laporan ini lebih sistematis.

Pada Prinsipnya, sistematika penulisan laporan ini telah ditetapkan sebelumnya oleh pihak Politeknik Negeri Medan, yaitu melalui jurusan Administrasi Bisnis, sehingga mahasiswa/i mempunyai pedoman untuk dapat mengarahkan penulisannya.

Adapun sistematika penulisan Laporan Praktik Kerja Lapangan ini adalah:

BAB 1 PENDAHULUAN

Dalam bab ini penulis menguraikan tentang latar belakang diadakannya Praktik Kerja Lapangan, tujuan yang ingin dicapai dan sistematika penulisan laporan Praktik Kerja Lapangan.

BAB 2 PELAKSANAAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

Dalam bab ini penulis menguraikan tentang informasi singkat mengenai tempat Praktik Kerja Lapangan, sejarah berdirinya perusahaan, makna logo perusahaan,struktur organisasi perusahaan dan bidang kegiatan perusahaan. Sub bab lain menjabarkan mengenai pengalaman selama Praktik Kerja Lapangan serta hambatan-hambatan yang dialami selama melaksanakan Praktik Kerja Lapangan.

BAB 3 PENUTUP

Dalam bab ini penulis menguraikan tentang simpulan dan saran-saran dalam menyusun laporan dan selama penulis melaksanakan Praktik Kerja Lapangan.

BAB 2

PELAKSANAAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

2.1 Sejarah Berdirinya Perusahaan

PT (Persero) Angkasa Pura I berawal dari dibentuknya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 33 tahun 1962 tanggal 15 November 1962 dengan nama Perusahaan Negara Angkasa Pura “Kemayoran” dan merupakan Perusahaan Negara pertama di Indonesia yang dibentuk oleh Pemerintah sebagai proyek percobaan dalam pengurusan dan pengusahaan Bandar Udara Kemayoran.

PT (Persero) Angkasa Pura I mempunyai hubungan yang erat dengan sejarah Bandar Udara Kemayoran Jakarta, yang dibangun oleh Pemerintah Kolonial Belanda tahun 1934. Dalam keadaan yang sangat sederhana, Kemayoran mengalami masa-masa pergantian penguasaan sampai dengan awal Perang Dunia II tahun 1942, Bandar Udara Kemayoran dikuasai oleh Belanda yang diambil alih oleh Jepang tahun 1945.

Sejak Jepang menyerah kepada Sekutu tahun 1945 Belanda menguasai kembali Kemayoran hingga tahun 1949, terutama bagi kepentingan militernya. Tahun 1950 Direktorat Penerbangan Sipil mengambil alih penguasaan Bandar Udara Kemayoran hingga pengalihannya kepada Perusahaan Negara Angkasa Pura “Kemayoran” tahun 1964.

Setelah realisasi dan aktifitas kerja dan melalui masa transisi selama dua tahun sejak berdirinya Perusahaan Negara Angkasa Pura “Kemayoran” barulah terlaksana sebagai hari lahirnya PT (Persero) Angkasa Pura II.

Selanjutnya Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 21 tanggal 17 Mei 1965 tentang menambah dan mengubah beberapa pasal dari peraturan Pemerintah No. 33 tahun 1962, antara lain:

1. Merubah nama Perusahaan Negara Angkasa Pura “Kemayoran” menjadi Perusahaan Angkasa Pura.

2. Kantor pusat berkedudukan di Jakarta dan mempunyai cabang di daerah.

3. Perusahaan menguasai Bandar Udara Internasional dan Bandar Udara di daerah dalam arti kata yang seluas-luasnya yang ditetapkan oleh Menteri.

4. Penambahan anggota Direksi menjadi empat orang, satu orang Direktur Utama dan tiga orang Direktur yang mengepalai tiga Direktorat Operasi.

Pada tahun 1974, Pemerintah melalui surat keputusan Menteri Perhubungan No. Km-2/4/PHB-74, melimpahkan pengelolaan Bandar Udara Halim Perdana Kusuma mulai tanggal 10 Januari 1974, yang sebelumnya merupakan sebagian dari Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma, yang diserahkan oleh Departemen Keamanan kepada Departemen Perhubungan untuk dibangun sebagai bandar Udara Sipil, berdasarkan keputusan bersama Menteri Pertahanan Keamanan Panglima Angkatan Bersenjata dengan Menteri Perhubungan No. KEP/B/25/IV/71 dan SK/124/S/1071.

Berdasarkan Undang-Undang No. 9 tahun 1969 pasal 2 ayat 2 tentang Perusahaan Umum maka pemerintah mengubah Perusahaan Negara Angkasa Pura menjadi Perusahaan Umum dengan Peraturan Pemerintah No. 3 tahun 1974 yang selanjutnya disebut Perusahaan Umum Angkasa Pura.

Kemudian pada awal tahun 1993 yaitu pada tanggal 3 Januari 1993 Perusahaan Umum Angkasa Pura I berubah menjadi PT (Persero) Angkasa Pura I. Keberadaan PT (Persero) Angkasa Pura I tersebut didasarkan dengan adanya Perturan Pemerintah No. 5 tahun 1992 yang mengubah Perum Angkasa I menjadi PT (Persero) Angkasa Pura I dan atas Akte Notaris Pendirian PT (Persero) Angkasa Pura I No. 1 tahun 1993.

Berdasarkan surat Menteri Keuangan No. S-33/MK/1994 tanggal 22 Januari 1994 PT (Persero) Angkasa Pura I mengalihkan pengelolaan Bandar Udara Polonia Medan dari PT (Persero) Angkasa Pura I kepada PT (Persero) Angkasa Pura II penyerahan tersebut meliputi:

1. Penguasaan Bandar Udara Polonia Medan sesuai dengan tugas dan fungsi Bandar Udara dalam lingkungan perusahaan Perseroan Terbatas.

2. Pemilikan seluruh kekayaan PT (Persero) Angkasa Pura I yang berupa aktiva tetap dan barang-barang persediaan Bandar Udara Polonia Medan.

3. Pembinaan para karyawan yang ditugaskan pada Bandar Udara Polonia.

4. Semua hutang piutang dan pendapatan yang diperoleh serta biaya yang dikeluarkan untuk pengoperasian Bandar Udara Polonia Medan setelah tanggal 31 Desember 1993.

Pelaksanaan serah terima tersebut adalah pada tanggal 24 Maret 1994 di Jakarta. Dengan demikian terhitung tanggal 1 Januari 1994, secara resmi Bandar Udara Polonia berada di bawah jajaran PT (Persero) Angkasa Pura II.

PT (Persero) Angkasa Pura II mengelola Bandar Udara yang meliputi:

· Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta

· Bandar Udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta

· Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang

· Bandar Udara Supadio, Pontianak

· Bandar Udara Polonia, Medan

· Bandar Udara Simpang Tiga, Pekan Baru

· Bandar Udara Tabing, Padang

· Bandar Udara Husein Sastranegara, Bandung

· Bandar Udara Sultan Iskandar Muda, Aceh

Pada awalnya Bandar udara Polonia dibangun pada tahun 1872 oleh Baron Michalsky, seorang bangsa Polandia yang mendapat konsesi dari Pemerintah Hindia Belanda untuk membuka perkebunan tembakau di Sumatera Timur di daerah Medan. Kemudian dia menamakan daerah/wilayah konsesinya itu dengan nama “Polonia”. Tahun 1936, lapangan terbang Polonia untuk pertama kalinya mengadakan perbaikan dengan nomor/arah landasan pada saat itu adalah 10-28, dan panjangnya 600 M. Pada tahun 1948, sesudah pada masa kemerdekaan Negara Republik Indonesia, kembali dikuasai oleh pemerintah Hindia Belanda setelah dikuasai oleh sekutu Jepang dari tahun 1946. Kemudian diadakan pembangunan berupa perpanjangan landasan menjadi 1000 M. Pada tahun 1949, pemerintah Hindia Belanda kembali memperpanjang landasan pacu menjadi 1200 M. Pada tahun 1950, Bandar Udara Polonia dikelola oleh AURI dan landasan pacu kembali diperpanjang menjadi 1800 M dengan lebar 45 M.

Tahun 1980, Berdasarkan KM.50/OT/Phb-76 tanggal 8 Maret 1978, Pelabuhan Udara Polonia Medan dibagi menjadi dua instansi, yakni Pelabuhan Udara Polonia dan Sentra Operasi Keselamatan Penerbangan (SENOPEN) Medan. Pada tahun ini Pelabuhan Udara mendapat proyek perpanjangan landasan dengan system “Cakar Ayam” sepanjang 445 meter. Dengan demikian panjang Landasan Bandar Udara Polonia Medan menjadi 2900 meter. Tahun 1982 sampai sekarang, pengolahan Pelabuhan Udara Polonia dipisahkan menjadi dua instansi, yaitu Daerah Kekuasaan yang dikuasai oleh TNI-AU dan Daerah Pengelolaan yang dikelola oleh Direktorat Jendral Perhubungan Udara. Tahun 1986, Pemerintah mengganti nama “Pelabuhan Udara” menjadi “Bandar Udara”. Pada tahun 1994, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. S-33/MK.016/1994 tanggal 22 Januari 1994 PT (Persero) Angkasa Pura-I menyerahkan pengoperasian dan pemilikan Bandar Udara Polonia Medan kepada PT (Persero) Angkasa Pura II.

Tahun 1995, Pemerintah Republik Indonesia dalam hal ini Departemen Perhubungan Republik Indonesia, sedang merancang pemindahan Bandar Udara Polonia Medan ke lokasi baru. Daerah dimaksud adalah daerah Kuala Namu Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara.

2.2 Makna Logo Perusahaan

Pada umumnya setiap perusahaan mempunyai logo masing-masing. Logo ini dibuat dengan tujuan untuk menggambarkan lambang dari suatu perusahaan atau ciri khusus perusahaan tersebut. Oleh sebab itu antara satu perusahaan dengan perusahaan lain tidak ada yang sama. Logo dari suatu perusahaan ada yang mempunyai arti atau makna tersendiri.

Demikian juga dengan PT (Persero) Angkasa Pura II Bandar Udara Polonia Medan mempunyai logo. Logo ini mempunyai makna tertentu dilihat dari bentuk dan warnanya.

Berdasarkan keputusan bersama Direksi Perusahaan Umum Angkasa Pura I dan Direksi Perusahaan Umum Angkasa Pura II No. KEP 352.A/5010.1/PAP II-89, tentang lambang dan logo Perusahaan Umum Angkasa Pura I dan Perusahaan Umum Angkasa Pura II yang menyatakan bahwa:

Logo terdiri dari huruf “A” dan huruf “P” dalam gerakan dinamis serta strip dua di bawah huruf “P” yang mempunyai arti sebagai berikut:

1. Unsur Logo terdiri dari:

a. Huruf “A” merupakan singkatan dari kata Angkasa.

b. Huruf “P” merupakan singkatan dari kata Pura.

c. Strip 2 (dua) sebagai pembeda antara Perum Angkasa Pura I dengan Perum Angkasa Pura II.

d. Bentuk huruf “A” dan “P” serta garis-garis pada kaki huruf ”A” mengambarkan kedinamisan dalam pengelolaan perusahaan.

2. Warna Logo terdiri dari:

a. Warna “Jingga” melambangkan warna yang sering digunakan Bandar Udara.

b. Warna “Biru” melambangkan keudaraan yang berarti kedamaian.

Makna logo secara keseluruhan adalah menggambarkan ciri khas dan kedinamisan pengelolaan perusahaan.

Untuk lebih jelasnya logo PT (Persero) Angkasa Pura II dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Angkasa-Pura-II-798708.gif

2.3 Struktur Organisasi dan Uraian Jabatan PT (Persero) Angkasa Pura II

Setiap perusahaan memiliki struktur organisasi, karena dengan demikian tugas dan wewenang dari masing-masing fungsi menjadi jelas. Demikian juga dengan PT (Persero) Angksa Pura II memiliki struktur organisasi garis dan staf dengan susunan tugas serta wewenang yang berbeda.

Struktur organisasi PT (Persero) Angkasa Pura II dalam manajemennya menganut sistem garis dan staff. Dimana dalam melaksanakan tugasnya Kepala Cabang dibantu oleh Divisi Pelayanan Lalu Lintas Udara, Divisi Pelayanan Operasional Bandara, Divisi Teknik Peralatan dan Umum, Divisi Teknik Elektronika dan Divisi Administrasi dan Komersial. Struktur organisasi PT (Persero) Angkasa Pura II Bandar Udara Polonia Medan dapat dilihat pada Lampiran 1

Susunan organisasi PT (Persero) Angkasa Pura II sesuai dengan keputusan Direksi PT (Persero) Angkasa Pura II No. KEP. 58/OM.00/1993 dan keputusan Direksi PT (Persero) Angkasa Pura II No. KEP.150/OM.00/AP-II/1994 tanggal 5 April 1994 yang kemudian diganti dengan keputusan Direksi PT (Persero) Angkasa Pura II No. KEP 471/OM.00/1998-AP II tanggal 4 September 1998 tentang pemberlakuan organisasi, peraturan, sistem dan prosedur pada kantor cabang PT (Persero) Angkasa Pura II Bandar Udara Polonia terdiri dari:

1. Kepala Cabang

Kepala Cabang PT (Persero) Angkasa Pura II mempunyai tugas-tugas antara lain:

a. Menyiapkan sarana, prasarana dan pelaksanaan kegiatan serta pengendalian jasa ke Bandar Udara serta keselamatan penerbangan sesuai dengan pedoman dan kebijakan yang digariskan Direksi.

b. Mengelola, mengendalikan, melayani jasa ke Bandar Udara serta keselamatan penerbangan sesuai dengan pedoman dan kebijaksanaan yang digariskan Direksi.

c. Membina, mengembangkan dan meningkatkan Sumber Daya Manusia.

d. Menyediakan, mengelola kegiatan usaha lain yang berhubungan dengan usaha jasa ke Bandar Udara.

2. Manager Pelayanan Operasi Lalu Lintas Udara (LLU)

Manager Pelayanan Operasi Lalu Lintas Udara (LLU) ini di dalam perusahaan memiliki tugas untuk :

a. Menyiapkan dan melakukan kegiatan pelayanan aerodrome dan approach control/terminal control area.

b. Menyiapkan dan melaksanakan kegiatan pelayanan area control.

c. Menyiapkan serta melaksanakan kegiatan pelayanan bantuan operasi penerbangan/aerounotika.

Sedangkan fungsi dari Manager ini sesuai dengan tugas yang ditetapkan oleh perusahaan. Untuk melaksanakan tugasnya dan fungsi tersebut. Manager Pelayanan Operasi Lalu Lintas Udara (LLU) dibantu oleh beberapa Junior Manager yaitu :

1. Junior Manager pelayanan aerodrome dan approach Control/Terminal Area (ADC-APP/TMA), mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pengendalian dan pengawasan Operasi Lalu lintas Udara di Bandar Udara Plonia Medan dan wilayah udara Terminal Control Area, di wilayah udara pendekatan termasuk Control Zone.

2. Junior Manager pelayanan Area Control (ACC), mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pelayanan pengendalian dan pengawasan operasi keselamatan lalu lintas udara di wilayah yang menjadi tanggung jawab.

3. Junior Manager pelayanan bantuan Operasi Penerbangan/Penerbangan Aeronautika (BOP/RANGTIKA), mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pengiriman dan penerimaan berita-berita penerbangan melalui hubungan antara stasiun komunikasi penerbangan serta melakukan kegiatan pengelolaan, pengumpulan, penyampaian dan penyebaran informasi aeronautika.

3. Manager Pelayanan Operasi Bandar Udara

Manager Pelayanan Operasi Udara mempunyai tugas sebagai berikut :

a. Menyiapkan dan melakukan kegitan pelayanan Bandar Udara.

b. Menyiapkan dan melaksanakan kegiatan pertolongan kecelakaan Penerbangan dan pemadam kebakaran.

c. Menyiapkan dan melaksanakan pengamanan Bandar Udara.

Untuk menyelenggarakan tugas tersebut, Manager Pelayanan Bandar Udara mempunyai fungsi penyiapan dan pelaksanaan operasi sesuai dengan tugas yang dimiliki. Dalam pelaksanaan dan fungsi Manager Pelayanan Operasi Bandar Udara ini dibantu oleh beberapa Junior Manager yang bertanggung jawab kepadanya, yaitu :

1. Junior Manager Pelayanan Bandar Udara, mempunyai tugas melaksanakan pengaturan pelayanan di sisi udara (airside), pengaturan pelayanan di terminal dan fasilitasnya, sisi darat (landside), pelayanan penerangan dan komunikasi umum yang berhubungan dengan penerbangan dan pariwisata untuk pemakai jasa Bandar Udara.

2. Junior Manager pertolongan kecelakaan penerbangan dan kebakaran (PKP-PK), mempunyai tugas melaksanakan pemberian pertolongan kecelakaan penerbangan dan pemadam kebakaran serta penanggulangan keadaan gawat darurat medik di lingkungan kerja Bandar Udara dan sekitarnya.

3. Junior Manager Pengamanan Bandar Udara, mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pengamanan kerja Bandar Udara.

4. Manager Teknik Umum dan Peralatan

Manager Teknik Umum dan Peralatan mempunyai tugas sebagai berikut :

a. Menyiapkan dan melakukan kegiatan pengoperasian, pemeliharaan dan pelaporan fasilitas bangunan.

b. Menyiapkan dan melaksanakan kegiatan pengoperasian, pemeliharaan dan pelaporan fasilitas teknik, mekanikal dan peralatan.

c. Membantu pelaksanaan pembangunan fasilitas teknik umum dan peralatan sesuai dengan pelimpahan kewenangan yang diberikan direksi.

Untuk menyelenggarakan tugas tersebut, Manager Teknik Umum dan Peralatan mempunyai fungsi penyiapan dan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan tugas yang menjadi wewenang dan tanggung jawab. Dalam pelasanaan tugas fungsinya Manager Teknik Umum dan Peralatan dibantu oleh 3 Junior Manager, yaitu :

1. Junior Manager Teknik Bangunan, mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pengoperasian, pemeliharaan dan pelaporan fasilitas bangunan terminal, bangunan umum.

2. Junior Manager Teknik Landasan dan Tata Lingkungan, mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pengoperasian, pemeliharaan dan pelaporan fasilitas landasan dan lingkungan Bandar Udara.

Junior Manager Teknik Mekanikal dan Peralatan, mempunyai tugas melaksanakan kegiata pengoperasian, pemeliharaan dan pelaoran fasilitas mekanikal dan peralatan.

5. Manager Teknik Elektronika dan Listrik

Manager Elektronika dan Listrik mempunyai tugas sebagai berikut :

a. Menyiapkan dan melakukan kegiatan pengoperasian, pemeliharaan dan pelaporan fasilitas teknik elektronika.

b. Menyiapkan dan melaksanakan kegiatan pengoperasian, pemeliharaan dan pelaporan fasilitas navigasi udara dan radar.

c. Menyiapkan dan melaksanakan kegiatan pengoperasian, pemeliharaan dan pelaporan fasilitas teknik listrik.

d. Membantu melaksanakan pembangunan fasilitas teknik elektro dan listrik sesuai pelimpahan kewenangan yang diberikan direksi.

Untuk melaksanakan fungsi dan tujuannya Manager Teknik Elektronika Listrik dibantu oleh beberapa Junior Manager, yaitu :

1. Junior Manager Telekomunikasi dan Teknik Elektronika Bandara, mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pengoperasian, pemeliharaan dan pelaporan fasilitas telekomunikasi penerbangan, elektronika Bandar Udara dan Komputer.

2. Junior Manager Teknik Navigasi Udara dan Radar, mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pengoperasian, pemeliharaan dan pelaporan fasilitas navigasi udara dan radar.

3. Junior Manager Teknik Listrik, mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pengoperasian, pemeliharaan dan pelaporan fasilitas listrik.

6. Manager Administrasi dan Komersial

Manager Administrasi dan Komersial mempunyai tugas sebagai berikut :

a. Menyiapkan dan melakukan kegiatan pengoahan usaha komersial.

b. Menyiapkan dan melaksanakan kegiatan pengolahan keuangan.

c. Menyiapkan dan melaksanakan kegiatan akuntasi.

d. Menyiapkan dan melaksanakan kegiatan pengelolaan perlengkapan.

e. Menyiapkan dan melaksanakan kegiatan administrasi kepegawaian, ketata usaha dan umum.

Dalam melaksanakan tugas dan fungsnya, Manager Administrasi dan komersial dibantu olhe beberapa Junior Manager, yaitu :

1. Junior Manager Komersial, mempunyai tugas menyiapkan pengembangan dan melaksanakan kegiatan komersial yang meliputi pengumpulan data produksi, perhitungan dan pembuatan surat tagihan untuk jasa-jasa aeronautika dan jasa non auronautika maupun usaha-usaha lain yang mempunyai hubungan dengan usaha-usaha jasa ke Bandar udaraan.

2. Junior Manager keuangan, mempunyai tugas melaksanakan administrasi keuangan dan anggaran.

3. Junior Manager Akuntansi, mempunyai tugas kegiatan akuntansi.

4. Junior Manager perlengkapan mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pengadaan, pergudangan dan administrasi perlengkapan.

5. Junior Manager Kepegawaian dan Umum, mempunyai tugas melaksanakan kegiatan adminstrasi kepegawaian, kesejahteraan dan pelayanan kesehatan pegawai, kegiatan ketatausahaan, kerumahtanggaan, keprotokoleran, penyelenggaraan informatika managerial dan pengolahan data pelaporan serta penyiapan ikatan kerja.

7. Airport Duty Manager (Kelompok Tugas Operasi)

Airport Duty Manager yang terdiri sebanyak-banyaknya 5 (lima) orang, setingkat Manager yang merupakan pelaksanaan non structural dalam menanggulangi permasalahan operasional tingkat pertama di Bandara Udara, bertugas bergantian mengkoordinir kegiatan tersebut. Dalam melaksanakan tugas Airport Duty Manager bertanggung jawab kepada General Manager.

8. Fasilitas Pendukung di Setiap Bidang Perusahaan

Pada PT. (Persero) Angkasa Pura II Bandar Udara Polonia Medan, terdapat fasilitas pendukung dalam melaksanakan kegiatan pekerjaannya yang dapat memberikan kelancaran dan kenyamanan dalam melakukan seluruh pekerjaan. Agar pekerjaan yang dilakukan dapat lebih terorganisasi serta lebih mudah untuk dikerjakan dengan baik dan efisien, fasilitas yang disediakan oleh PT. (Persero) Angkasa Pura II di antaranya adalah kamar mandi, AC, ruangan, telepon, televisi, kendaraan, peralatan yang berhubungan, koperasi, kantin, mesin, foto copy, dan poliklinik atau askes bagi karyawan, serta beberapa fasilitas pendukung lainnya.

2.4 Pengalaman Selama Praktik Kerja Lapangan

Praktik Kerja Lapangan dilaksanakan selama 3 minggu, dari tanggal 22 Februari s/d 20 Maret 2010, dikantor PT (Persero) Angkasa Pura II Polonia Medan pada Dinas Komersial.

Hari pertama melaksanakan Praktik Kerja Lapangan diawali dengan acara pembukan di kantor Dinas Kepegawaian PT (Persero) Angkasa Pura II, yaitu berupa pengarahan tentang tata cara pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan serta peraturan-peraturan yang berlaku di PT (Persero) Angkasa Pura II oleh Koordinator Praktik Kerja Lapangan.

Dari 12 orang peserta Praktik Kerja Lapangan tersebut dibagi menjadi beberapa kelompok. Kelompok tersebut ditempatkan di kantor-kantor divisi dan kantor-kantor dinas yang ada di PT (Persero) Angkasa Pura II Polonia Medan.

Pada kesempatan ini penulis ditempatkan di Dinas Komersial. Berikut ini penulis akan menguraikan pengalaman-pengalaman penulis selama melaksanakan Praktik Kerja Lapangan.

2.4.1 Memproses Data Arrival and Departure Sheet PJP4U dan PJP2U

Data Arrival dan Departure Sheet PJP4U (Pelayanan Jasa Pendaratan, Penempatan, dan Penyimpanan Pesawat Udara) dan PJP2U (Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara) merupakan data yang diperoleh dari ruangan Aerodrome Control Tower dimana pada ruangan inilah tempat untuk memantau dan mencatat semua pesawat yang berangkat mupun mendarat pada Bandar Udara Polonia Medan kemudian data tersebut diproses oleh dinas ADC-APP/TMA dan Dinas Komersial. Kegiatan awal dalam memproses Data Arrival and Departure Sheet PJP4U dan PJP2U pada dinas komersial yaitu mengambil data Arrival and Departure Sheet (Lampiran 2) dari ruangan Aerodrome Control Tower tiap harinya kemudian data diinput dan diproses kedalam komputer pada Billing System sebagai data lampiran/data dukung tagihan PJP4U dan PJP2 Domestik dan Internasional. Dan apabila data dari Ruangan Control Tower tidak ada atau terjadi kerusakan pada penyimpanan data Arrival and Departure Sheet maka akan dilakukan penginputan data ke Komputer secara manual yaitu diambil dari Data Strip Marking yang diperoleh dari Dinas APP/Lalu Lintas Udara.

2.4.2 Mencatat Registrasi Pesawat

Pencatatan registrasi pesawat ini dilakukan tiap harinya yang bertujuan untuk mengecek data yang telah diinput ke komputer dengan menggunakan Billing System apakah sesuai dengan data yang diperoleh dari dinas APP/Lalu Lintas Udara tiap harinya. Adapun yang dlihat sebagai bahan perbandingan ialah kode registrasi pesawat khususnya pada Garuda Airlines, Lion Airlines, Batavia Airlines yaitu pesawat yang lebih diminati oleh masyarakat.

2.4.3 Pendistribusian Surat

Setelah surat masuk diproses berdasarkan prosedur penerimaan surat dan dianggap layak serta sesuai dengan kebijaksanaan perusahaan maka surat tersebut akan diteruskan atau didistribusikan kebagian tertentu yang mempunyai wewenang untuk menindaklanjuti surat tersebut. Dalam pendistribusian surat digunakan buku ekspedisi surat keluar Divisi Komersial.

Buku Ekspedisi adalah sejenis buku agenda surat keluar yang digunakan untuk pencatatan surat keluar sebelum diantar ke bagian masing-masing dan pada saat mengantar surat, buku ekspedisi diparaf dan diberi tanggal penerimaan oleh staf yang menerimanya. Gunanya adalah sebagai tanda bukti bahwa surat yang dimaksud sudah diterima oleh yang bersangkutan.

Pada buku ekspedisi terdapat kolom:

a. Tanggal Pengiriman

b. Dikirim Ke

c. Keterangan

d. Tanda Terima

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

NO

TANGGAL PENGIRIMAN

DIKIRIM KE

KETERANGAN

TANDA TERIMA






2.4.4 Menangani Telepon

Komunikasi sangat dibutuhkan oleh setiap manusia baik digunakan untuk jarak jauh maupun jarak dekat. Percakapan jarak jauh membutuhkan alat penghubung dalam menyampaikan berita yang disampaikan.

Dengan adanya perkembangan teknologi canggih, kebutuhan komunikasi tersebut sudah dapat dilakukan dengan sarana telepon. Sehingga untuk menyampaikan berita yang isinya singkat dan tidak kompleks (rumit) harus disampaikan segera serta kadang-kadang bersifat pribadi, maka penggunaan telepon adalah saranan yang tepat.

Dalam lingkungan PT (Persero) Angkasa Pura II, penggunaan pesawat telepon sangat mendukung dalam kelancaran tugas sehari-hari di dalam kantor. Di dalam perusahaan ini bnayak ditemui pesawat telepon. Ini dimaksudkan satu untuk Kepala Unit dan satu unit lagi untuk staf. Pesawat telepon dalam satu unit ada yang dipasang paralel dan ada juga secara seri.

Pesawat telepon ini selain berfungsi sebagai intercom (komunikasi di dalam perusahaan), juga berfungsi untuk menelepon jarak jauh. Untuk menelepon jarak jauh harus menggunakan tombol ekstension yaitu angka 9 (sembilan), lalu operator akan menghubungkan dengan nomor yang akan kita tuju. Sedangkan untuk komunikasi di dalam perusahaan kita dapat menekan nomor yang akan dituju, dan biasanya kode tersebut hanya terdiri dari 3 (tiga) angka saja, misalnya Divisi Komersial 228 (dua dua delapan).

Pesawat telepon dapat juga digunakan untuk memberi informasi dan dapat juga digunakan untuk menerima informasi. Dalam menerima informasi, ada yang berasal dari dalam dan luar perusahaan. Adapun cara menerima telepon adalah sebagai berikut:

Setelah telepon berbunyi, setiap orang yang bertugas pada unit tersebut berhak mengangkatnya, lalu ucapkaan kata pembukaan dan menyebutkan nama unit tersebut misalnya:

A: Selamat pagi (sesuai dengan situasi), Divisi Komersial

B: Selamat pagi, bisa bicara dengan Pak Maryono?

A: Maaf Pak ini dengan siapa?

B: Ini dengan………

Setelah itu, apabila yang mengangkat telepon bukan orang yang dicari, maka orang yang mengankat telepon tadi memberitahukan orang yang bersangkutan bahwa ada telepon untuknya. Tetapi apabila orang yang dimaksud tidak ada di tempat, maka kita memberitahukan bahwa orang yang dicari tidak ada ditempat. Lalu kita menanyakan apakah ada pesan atau tidak yang mau disampaikan.

Setelah selesai berbicara penerima telepon mengucapkan terima kasih dan kemudian meletakkan gagang telepon setelah terlebih dahulu orang yang menelepon meletakkan gagang telepon.

2.4.5 Pengarsipan

Sebagaimana kita ketahui bahwa setiap perusahaan pasti memiliki dokumen-dokumen yang penting untuk disimpan, baik dokumen yang dibuat oleh peusahaan itu sendiri maupun yang diterima dari pihak lain. Dokumen-dokumen tersebut harus ada pertinggal pada perusahaan untuk diarsip/disimpan. Dokumen yang dimaksud diatasi dapat berupa surat masuk, surat keluar, bukti pembayaran, dan lain-lain. Arsip dan file ini dibutuhkan untuk menjaga kemungkinan bila suatu waktu dokumen-dokumen tersebut dibutuhkan terutama sebagai bukti.

Pengarsipan merupakan pengklasifikasian, pengaturan dan penyimpanan catatan sedemikian rupa, sehingga catatan-catatan tersebut dapat ditemukan kembali dengan cepat, tepat dan kapan saja diperlukan.

Adapun penataan arsip di lingkungan PT (Persero) Angkasa Pura II Medan adalah menganut azas desentralisasi, dalam arti bahwa setiap unit kerja mempunyai kewajiban untuk menata arsip dan menjadi tanggung jawab masing-masing. Dan sistem yang dipakai dalam pengarsipan adalah sistem abjad yakni berdasarkan huruf abjad.

Pada sistem abjad, penyimpanan dokumennya berdasarkan urutan abjad dari kata tangkap (nama) dokumen bersangkutan. Nama dapat terdiri dari 2 huruf awal dari nama orang dan nama badan perusahaan baik dokumen yang dibuat oleh peusahaan itu sendiri maupun yang diterima dari pihak lain. Huruf alphabet mulai dari A sampai Z yang dijadikan sebagai kode penyimpanan dan penemuan kembali surat-surat. Sistem abjad ini dipilih PT (Persero) Angkasa Pura II Bandar Udara Polonia Medan sebagai system penyimpanan arsip karena:

1. Dokumen-dokumen cenderung dicari atau diminta melakukan nama

2. Jumlah langganan yang berkomunikasi banyak jumlahnya.

3. Unit kerja biasanya hanya menerima dan menyimpan dokumen yang berhubungan dengan fungsi/tugas masing-masing yang sama (misalnya produksi, keuangan dan sebagainya)

4. Nama lebih mudah diingat oleh siapa pun.

2.5 Hambatan Sebelum dan Selama Praktik Kerja Lapangan

Sebelum dan selama melaksanakan Praktik Kerja Lapangan, penulis mendapat beberapa hambatan tetapi hambatan-hambatan itu dapat diatasi dengan dibantu oleh teman-teman serta karyawan-karyawan PT (Persero) Angkasa Pura II Bandar Polonia Medan.

2.5.1 Hambatan Sebelum Praktik Kerja Lapangan

1. Sulitnya dalam mencari tempat Praktik Kerja Lapangan

2. Kurangnya informasi tentang lembaga Perusahaan dan Instansi Pemerintah yang menerima mahasiswa untuk melaksanakan Praktik Kerja Lapangan.

3. Keterbatasan waktu untuk mencari tempat Praktik Kerja Lapangan, karena perkulihan yang cukup padat.

2.5.2 Hambatan Selama Praktik Kerja Lapangan

Hambatan/masalah sering kali ditemui dan dirasakan dalam melaksanakan suatu pekerjaan/kegiatan. Hambatan dapat timbul apabila seorang mahasiswa/I tidak bisa bersosialisasi, menguasai keadaan, tidak memiliki keramahtamahan, kurangnya komunikasi dengan pegawai/pimpinan di dalam lingkungan kerja.

Pada saat pertama memulai Praktik Kerja Lapangan, penulis hanya merasakan perasaan asing dan berusaha untuk beradaptasi terutama dalam hal berkomunikasi, agar tidak hanya diam dan memandangi setiap sudut ruangan. Jadi, dengan adanya keramahtamahan dengan para pegawai dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja khususnya antar pegawai/karyawan di PT (Persero) Angkasa Pura II Bandar Udara Polonia Medan. Karena baru pertama kali penulis melaksanakan Praktik Kerja Lapangan selama pendidikan, pada tahap awal penulis merasa canggung dan binggung dalam berkomunikasi dengan para pegawai/karyawan yang bekerja pada Dinas Komersial. Karena bertemu dengan orang-orang yang jauh lebih berpengalaman dan lebih dewasa. Tapi hal ini tidak berlangsung lama karena penulis selalu berusaha untuk beradaptasi dengan mereka dan tugas yang diberikan kepada penulis.

BAB 3

PENUTUP

3.1 Simpulan

PT (Persero) Angkasa Pura II Bandar Udara Polonia Medan merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa Bandar Udara yang meliputi pelayanan penumpang, pelayanan pesawat udara yang melayani perusahaan penerbangan baik dalam maupun luar negeri, melayani kegiatan arus barang kiriman, melaksanakan dan menyediakan sarana bagi kegiatan Bandar Udara.

Berdasarkan pengalaman penulis selama melaksanakan Praktik Kerja Lapangan yakni dari tanggal 22 Februari s/d 20 Maret 2010 pada PT (Persero) Angkasa Pura II Bandar Udara Polonia Medan, dimana penulis ditempatkan pada Dinas Komersial selama 3 minggu penulis mendapat banyak pengalaman dan pengetahuan baik yang menyangkut kegiatan di PT (Persero) Angkasa Pura II Bandar Udara Polonia Medan maupun pengetahuan umum lainnya, maka penulis dapat mengambil simpulan sebagai berikut:

1. PT (Persero) Angkasa Pura II Bandar Udara Polonia Medan adalah perusahaan yang bergerak di bidang jasa.

2. Struktur organisasi PT (Persero) Angkasa Pura II Bandar Udara Polonia Medan adalah struktur organisasi garis dan staff.

3. Salah satu tugas pada Dinas Komersial ialah memproses Data Arrival dan Departure Sheet PJP4U (Pelayanan Jasa Pendaratan, Penempatan, dan Penyimpanan Pesawat Udara) dan PJP2U (Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara) tiap harinya.

4. Pada Dinas Komersial, penanganan surat masuk dan surat keluar dilaksanakan dengan baik, teratur, sederhana dan mudah dikerjakan, sehingga Divisi dan Dinas yang berhubungan dengan Dinas Komersial dapat bekerja lebih lancar.

5. Kerja sama antar bagian-bagian di PT (Persero) Angkasa Pura II Bandar Udara Polonia Medan terjalin dengan baik.

6. Pekerjaan yang dikerjakan pada Praktik Kerja Lapangan sangat berbeda dengan teori yang penulis peroleh selama duduk dibangku kuliah.

7. Sistem kearsipan yang digunakan oleh PT (Persero) Angkasa Pura II Bandar Udara Polonia Medan adalah sistem abjad

3.2 Saran

Berdasarkan pengalaman yang diperoleh dalam melaksanakan Praktik Kerja Lapangan penulis dapat memberikan beberapa saran ialah sebagai berikut:

1 Untuk efisensi kerja perlunya penambahan maupun perbaikan peralatan kantor. Misalnya, komputer dan mesin print untuk setiap ruangan sangat dibutuhkan, oleh sebab itu diharapkan agar dapat diadakan penambahan sehingga karyawan dapat bekerja dengan baik serta penambahan mesin foto copy.

2 Untuk meningkatkan efektifitas kerja, hendaknya tiap karwawan mempunyai dan menggunakan Flashdisk dalam penyimpanan data-data yang apabila data-data tersebut suatu waktu dibutuhkan dan diminta oleh divisi dan dinas lain yang ada pada PT (Persero) Angkasa Pura II Bandar Udara Polonia Medan.

3 Untuk memperlancar proses kerja pada PT (Persero) Bandar Udara Polonia Medan khususnya pada Dinas Komersial ada baiknya membuat jaringan LAN (Local Area Networking) yaitu jaringan yang menghubungkan komputer yang satu dengan yang lain yang ada pada suatu perusahaan. Khususnya dalam memproses Data Arrival dan Departure Sheet PJP4U (Pelayanan Jasa Pendaratan, Penempatan, dan Penyimpanan Pesawat Udara) dan PJP2U (Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara).

4 Diharapkan agar Politeknik dapat mengirimkan perwakilannya ke perusahaan dimana mahasiswa melaksanakan praktik kerja lapangan agar perusahaan tidak merasa siswanya dilepas begitu saja sehingga terjalin kerja sama yang lebih erat antara perusahaan dengan politeknik

5 Diharapkan agar mahasiswa sebelum melaksanakan Praktik Kerja Lapangan harus mempersiapkan diri sebaik mungkin sehingga dapat mengerjakan pekerjaan dengan baik pada waktu pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan.

0 komentar: